Judul :
Pseudomonas Aeruginosa Pada Penyakit Paru
Obstruktif Kronik (PPOK) Eksaserbasi Akut Dan Hubungannya Dengan Derajat
Keparahan PPOK
Tanggal Terbit :
26 Agustus 2010
Penulis :
Novriyanti Dewi Artika
Pembimbing :
Alwinsyah Abidin
Divisi :
Pulmonologi dan Alergi Imunologi
Abstrak :
Pseudomonas aeruginosa memegang peranan
penting pada eksaserbasi Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK). Eksesarbasi
menyebabkan perburukan fungsi paru, morbiditas dan mortalitas yang tinggi,
sehingga diperlukan penanganan yang adekwat dan efisien. Maka perlu diketahui
peranan kuman ini saat eksaserbasi, dan hubungannya dengan derajat keparahan
PPOK.
Sebuah penelitian potong lintang dilakukan
terhadap 50 orang pasien yang dirawat karena eksaserbasi PPOK di ruang rawat
inap Penyakit Dalam RSUP H. Adam Malik Medan mulai Agustus 2009 – Juni 2010.
Dilakukan anamnesis, pemeriksaan fisik, foto toraks, spirometri dan kultur
sputum. Analisa statistic menggunakan uji chi-square
dan Anova.
Pseudomonas aeruginosa menempati urutan ke-4
kuman terbanyak pada penelitian ini. Pola kuman pada saat eksaserbasi meliputi Klebsiella pneumonia (20,37%), Staphylococcus aureus (18,52%), Klebsiella Ozaenae (11,11%) dan, Pseudomonas aeruginosa (9,26%). Pseudomonas aeruginosa ditemukan berhubungan
dengan PPOK derajat berat (FEV1 < 50% prediksi, p = 0,05). Semua bakteri
memiliki sensitivitas yang sangat tinggi terhadap meropenem (100%), diikuti
amikasin (96 ,88%), gentamisin (93,75%), kanamisin (84,38%), sefotaksim
(78,12%), dan levofloksasin (75%). Sementara itu, antibiotic yang paling banyak
resisten adalah tetrasiklin dan amoksisilin (84,38%), diikuti ampisilin
(81,25%).
Pseudomonas aeruginosa menempati urutan ke-4
kuman terbanyak pada penelitian ini dan berhubungan dengan PPOK derajat berat.


01.26
Unknown
Posted in:
0 komentar:
Posting Komentar