Judul :
Peran Sulfas Ferrosus Sebagai Pengikat Fosfat (Phosphate Binder) Pada Pasien Pgk Dengan Hemodialisis Reguler
Tahun Terbit :
17 Maret 2011
Penulis :
Erwinsyah
Pembimbing :
Harun Rasyid Lubis
Divisi :
Nefrologi-Hipertensi
Latar Belakang :
Penderita penyakit ginajl kronik (PGK) mempunyai resiko kematian yang ajuh
lebih tinggi dibandingakn populasi normal. Hiperfosfemia dan angka perkalian
fosfat dan kalsium yang tinggi berasosiasi secara independen terhadap
mortalitas pasien PGK stadium akhir yang menjalani dialisis. Konsekuensi ini
dianggap berperan terhadap peningkatan kejadian hiperparatioidisme,
osteodistrofi renal, kalsifikasi kardiovaskuler dan jaringan ikat lunak dan
kalsifilaksis. Beberapa peneliti melaporkan bahwa komponen ferry dapat mengikat
fosfat yang ada dalam makanan bila diberikan secara oral bersama dengan
makanan. Di Indonesia preparat sulfas ferrosus mudah, murah dan sering
digunakan sebagai penambah darah pada pasein anemia, sehingga penelitian ini
mencoba menganalisa adanya peran pemberian sulfas ferrosus pada pasien PGK yang
menjalani hemodialisis reguler sebagai pengikat fosfat (phosphate binder) untuk
mencegah terjadinya hiperfosfatemia.
Tujuan :
Untuk mengetahui apakah ada peranan pemberian sulfas ferrosus dengan penurunan
kadar fosfat darah pada pasien PGK yang menjalani hemodialisis reguler.
Metode :
Penelitian dilakukan mulai bulan April 2010 sampai Oktober 2010. Jumlah
peserta 34 orang, dipilih secara acak dari penderita PGK terminal dengan HD
reguler di ruang Hemodialisis RSU.Dr. Pirngadi Medan dengan umur > 18 tahun.
Pemeriksaan kadar posfat dilakukan sebelum dan sesudah diberi obat sulfas
ferrosus atau placebo selama 2 minggu. Kemudian dilakukan pemberian obat secara
cross over selama 2 minggu berikutnya, serta dilakukan pemeriksaan ulang kadar
fosfat setelah pemberian obat maupun placebo.
Hasil :
Nilai rerata kadar serum posfat mengalami kenaikan yang signifikan demgam
(p < 0,0001) dari (3,543 ± 0,79) menjadi (5,719 ± 1,76) pada kelompok yang
awalnya mendapat terapi sulfas ferrosus kemudian setelah dialakukan cross
over mendapat terapi placebo.
Hubungan antara penurunan kadar serum posfat dengan pemberian sulfas
ferrosus pada penelitian ini baik dilakukan pada tahap I maupun tahap II (cross
over) yang masing-masing dilakukan selama 2 minggu tidak bermakna secara
signifikan dengan nilai (p = 1,107) dan (p = 0,65). Hal ini bertentangan dengan
penelitian sebelumnya.
Kesimpulan :
Penelitian ini mendapatkan hubungan tidak bermakna antara penurunan kadar serum
posfat dengan pemberian suflas ferrosus sebagai pengikat posfat (Phosphate
Binder) pada pasien PGK dengan hemdoialisis reguler. Diperlukan penelitian
lanjutan dengan jumlah sampel yang lebih besar, jenis dan dosis obat yang elbih
adekuat serta waktu pengamatan yang lebih lama guna mendapatkan hasil yang
elbih bermakna.
Kata Kunci :
PGK (Penyakit Ginjal Kronik), Hiperfosfatemia, Sulfas Ferrosus, Placebo)


01.14
Unknown
Posted in:
0 komentar:
Posting Komentar