Diberdayakan oleh Blogger.

Minggu, 17 Juni 2012

Peran Sulfas Ferrosus Sebagai Pengikat Fosfat (Phosphate Binder) Pada Pasien Pgk Dengan Hemodialisis Reguler


Judul :
Peran Sulfas Ferrosus Sebagai Pengikat Fosfat (Phosphate Binder)  Pada Pasien Pgk Dengan Hemodialisis Reguler

Tahun Terbit :
17 Maret 2011

Penulis :
Erwinsyah

Pembimbing :
Harun Rasyid Lubis

Divisi :
Nefrologi-Hipertensi

Latar Belakang :
Penderita penyakit ginajl kronik (PGK) mempunyai resiko kematian yang ajuh lebih tinggi dibandingakn populasi normal. Hiperfosfemia dan angka perkalian fosfat dan kalsium yang tinggi berasosiasi secara independen terhadap mortalitas pasien PGK stadium akhir yang menjalani dialisis. Konsekuensi ini dianggap berperan terhadap peningkatan kejadian hiperparatioidisme, osteodistrofi renal, kalsifikasi kardiovaskuler dan jaringan ikat lunak dan kalsifilaksis. Beberapa peneliti melaporkan bahwa komponen ferry dapat mengikat fosfat yang ada dalam makanan bila diberikan secara oral bersama dengan makanan. Di Indonesia preparat sulfas ferrosus mudah, murah dan sering digunakan sebagai penambah darah pada pasein anemia, sehingga penelitian ini mencoba menganalisa adanya peran pemberian sulfas ferrosus pada pasien PGK yang menjalani hemodialisis reguler sebagai pengikat fosfat (phosphate binder) untuk mencegah terjadinya hiperfosfatemia. 

Tujuan
Untuk mengetahui apakah ada peranan pemberian sulfas ferrosus dengan penurunan kadar fosfat darah pada pasien PGK yang menjalani hemodialisis reguler.

Metode
Penelitian dilakukan mulai bulan April 2010 sampai Oktober 2010. Jumlah peserta 34 orang, dipilih secara acak dari penderita PGK terminal dengan HD reguler di ruang Hemodialisis RSU.Dr. Pirngadi Medan dengan umur > 18 tahun. Pemeriksaan kadar posfat dilakukan sebelum dan sesudah diberi obat sulfas ferrosus atau placebo selama 2 minggu. Kemudian dilakukan pemberian obat secara cross over selama 2 minggu berikutnya, serta dilakukan pemeriksaan ulang kadar fosfat setelah pemberian obat maupun placebo.

Hasil
Nilai rerata kadar serum posfat mengalami kenaikan yang signifikan demgam (p < 0,0001) dari (3,543 ± 0,79) menjadi (5,719 ± 1,76) pada kelompok yang awalnya mendapat terapi sulfas ferrosus kemudian setelah dialakukan cross over mendapat terapi placebo.
Hubungan antara penurunan kadar serum posfat dengan pemberian sulfas ferrosus pada penelitian ini baik dilakukan pada tahap I maupun tahap II (cross over) yang masing-masing dilakukan selama 2 minggu tidak bermakna secara signifikan dengan nilai (p = 1,107) dan (p = 0,65). Hal ini bertentangan dengan penelitian sebelumnya. 

Kesimpulan :
Penelitian ini mendapatkan hubungan tidak bermakna antara penurunan kadar serum posfat dengan pemberian suflas ferrosus sebagai pengikat posfat (Phosphate Binder) pada pasien PGK dengan hemdoialisis reguler. Diperlukan penelitian lanjutan dengan jumlah sampel yang lebih besar, jenis dan dosis obat yang elbih adekuat serta waktu pengamatan yang lebih lama guna mendapatkan hasil yang elbih bermakna.

Kata Kunci : 
PGK (Penyakit Ginjal Kronik), Hiperfosfatemia, Sulfas Ferrosus, Placebo)

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Free Wordpress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Templates