Divisi
Endokrinologi dan Metabolik, Departemen Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran
Universitas Sumatera Utara/RSUP.H.Adam Malik Medan
Latar Belakang: Obesitas sentral dapat menyebabkan
penurunan kadar adiponektin, akibatnya risiko penyakit kardiometabolik menjadi
meningkat. pola hidup medis (PHM) yang terdiri dari diet dan latihan jasmani
mampu menurunkan obesitas dan meningkatkan adiponektin sehingga risiko penyakit
kardiometabolik menjadi menurun.
Tujuan: Menganalisa pengaruh PHM dengan plasebo (PHMP) dibandingkan PHM dengan
metformin (PHMM) selama 12 minggu, terhadap faktor risiko kardiometabolik:
Adiponektin, BB, LP, IMT, LDL, HDL, Trigliserida, gula darah puasa (GDP), dan
gula darah 2 jam post prandial (GD2JPP).
Metode: Dilakukan randomized
double-blind clinical trial terhadap 37 penderita obesitas untuk menentukan
kelompok PHMP dan PHMM. PHM dilakukan selama 12 minggu dan pemeriksaan parameter risiko kardiometabolik dilakukan
pada minggu 0 dan ke-12.
Hasil: Setelah minggu ke-12 pada kelompok PHMM terdapat
penurunan yang signifikan parameter BB (p=0,001), LP (p=0,032) IMT (p=0,001),
LDL (p=0,001), Trigliserida (0,002), GDP (p=0,023), GD2JPP (p=0,021) dan
peningkatan adiponektin (p=0,001). Sedangkan pada kelompok PHMP terdapat
penurunan yang signifikan parameter BB
(p=0,001), LP (p=0,032), IMT (p=0,001) Trigliserida (p=0,001), GDP (p=0,039)
dan peningkatan adiponektin tidak signifikan (p=0,76). Perbandingan kelompok
PHMP vs PHMM yang berbeda signifikan adalah parameter adiponektin (p=0,042)
Kesimpulan: PHM setelah 12 minggu,
menyebabkan penurunan beberapa parameter risiko kardiometabolik termasuk
peningkatan parameter adiponektin.
Kata Kunci : Obesitas, adiponektin,
pola hidup medis, risiko kardiometabolik
PENGARUH
MODIFIKASI POLA HIDUP MEDIS DENGAN DAN TANPA METFORMIN TERHADAP KADAR
ADIPONEKTIN PADA PENDERITA OBESITAS
Brama Ihsan Sazli, Halomoan Budi Susanto, Dharma Lindarto
Divisi
Endokrinologi dan Metabolik, Departemen Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas
Kedokteran Universitas Sumatera Utara/RSUP.H.Adam Malik Medan
Latar Belakang
Obesitas adalah kelebihan berat badan yang
mengganggu kesehatan dan merupakan masalah yang serius di masyarakat. Menurut
data World Health Organization (WHO)
pada tahun 2007, prevalensi obesitas dari beberapa negara bervariasi secara
dramatis dan diduga diatas 1,7 miliar yang overweight dan 310 juta penderita
obes.1 Menurut data lain dari National
Health and Nutrition Examination Surveys (NHANES) tahun 2006 dinyatakan
bahwa 72 juta orang dewasa di Amerika mempunyai IMT > 30 kg/m2 dan
prevalensi penderita obesitas menetap dalam beberapa tahun terakhir, dengan
prevalensi 31,1 % pada pria dan 33,2 % pada wanita.2
Pada akhir ini hubungan
patobiologi obesitas dengan sindroma metabolik dengan resiko kardiovaskuler mendapat perhatian yang cukup besar. Keadaan
resistensi insulin pada obesitas juga kemungkinan disebabkan oleh pengeluaran
asam lemak dari sel lemak/fat yang kemudian berkumpul dihati dan otot, yang
kemudian diduga sebagai penyebab sindrom metabolik.3,4 Insulin mempunyai peran penting karena berpengaruh baik pada
penyimpanan lemak maupun sintesis lemak dalam jaringan adiposa, sehingga jika ada resintensi insulin dapat menyebabkan gangguan proses penyimpanan lemak maupun sintesis lemak.3
Penelitian akhir-akhir ini pada bidang
obesitas dititik beratkan pada peranan
adiposit sebagai organ endokrin yang yang
mensekresi sejumlah sitokin. Sitokin tersebut berperan pada berbagai komplikasi
metabolik dan vaskuler pada obesitas. Dengan meningkatnya masa adiposit visceral, maka akan terjadi peningkatan sekresi sejumlah produk
seperti asam lemak bebas (ALB), TNF-α, IL-6, resistin, dan leptin, dan penurunan adiponektin.4
Adiponektin adalah sitokin
yang dihasilkan oleh adiposit, berupa protein
dengan ukuran 30-kDa. Studi eksperimental mengindikasikan bahwan adiponektin memiliki
kemampuan anti atherogenik, anti inflamasi, dan diduga adiponektin memiliki efek metabolik
anti diabetik melalui peningkatan sensitisasi insulin. Goidstein dkk melaporkan
bahwa Adiponektin dapat menghambat proliferasi sel LDL dan menghambat pengeluaran superoksida
yang diinduksi oleh LDL. Ouchi dkk menemukan pengaruh adiponektin terhadap
proses adhesi monosit pada lapisan endothelium, disferensiasi myeloid, produksi
sitokin makrofag, dan proses fagositosis dengan mencegah aksi TNFα.5
Adiponektin memberikan peringatan awal jika terjadi disregulasi adiposit
pada orang obesitas, dan sebagai faktor anti-atherogenik yang potensial karena
memiliki kemampuan memodulasi ekspresi molekul adhesi endotel dan juga
mempunyai efek atherogenesis. 6
The Diabetes
Prevention Program (DPP) telah membuktikan bahwa modifikasi pola hidup melalui kegiatan fisik
sedang dan perubahan pola makan akan menurunkan berat badan 5-7 % dan juga
menurunkan 58 % risiko diabetes.6
Menurunkan berat badan, merubah pola makan dan gerak badan yang efektif
ternyata juga dapat menurunkan resiko penyakit kardiovaskular dan memperbaiki
fungsi vaskular.7 Bahkan terdapat bukti yang kuat bahwa dengan
adanya penurunan berat badan dapat menurunkan tekanan darah, serum
trigliserida, total kolesterol, LDL maupun kadar glukosa darah pada individu
berat badan lebih atau obesitas tanpa diabetes mellitus.3
Metformin merupakan salah satu obat golongan biguanide
yang secara luas digunakan pada diabetes mellitus tipe 2, selain itu juga mempunyai efek menurunkan berat badan. Pada
pasien DM metformin mempunyai efek menekan produksi glukosa dihati dan sebagai insulin
sensitizer sehingga membuat
terjadinya penurunan berat badan stabil. Metformin
sendiri juga sudah beberapa kali diteliti sebagai bagian dari terapi pasien overweight dan
obesitas tanpa diabetes, walaupun data yang mendukung
penggunaannya masih kurang. 7
Tujuan
Menganalisa pengaruhPola Hidup Medis (PHM) dengan plasebo
(PHMP) dibandingkan PHM dengan metformin (PHMM) selama 12 minggu, terhadap
faktor risiko kardiometabolik: Adiponektin, BB, LP, IMT, LDL, HDL,
Trigliserida, gula darah puasa (GDP), dan gula darah 2 jam post prandial
(GD2JPP).
Metode
Dilakukan
randomized double-blind clinical trial terhadap 37 penderita
obesitas untuk menentukan kelompok PHMP dan PHMM selama 12minggu.
Waktu dan Tempat Penelitian.
Penelitian dilaksanakan
pada bulan Maret hingga September 2010.Penelitian dilaksanakan di Poliklinik
Endokrin dan Metabolik, RSUP H.Adam Malik Medan . Pengambilan dan pemeriksaan sampel darah dilaksanakan oleh Laboratorium
Prodia cabang Medan.
Kriteria yang diikutkan
dalam penelitian.
·
Subjek dengan usia
antara 18 – 50 tahun baik pria waupun wanita.
·
Subjek yang menerima
informasi serta memberikan persetujuan ikut serta dalam penelitian secara
sukarela dan tertulis (informed concent) untuk menjalani pemeriksaan
fisik/antropometri, laboratorium serta bersedia menjalani pengaturan diet dan
latihan jasmani sedang (moderate)
dari awal hingga akhir penelitian.
·
Subjek dengan IMT ≥ 25
kg/m2 dan lingkar pinggang (LP) ≥ 80 cm untuk wanita dan ≥ 90 cm
untuk pria.
·
Subjek tidak termasuk
dalam kriteria yang dikeluarkan dalam penelitian
Kriteria yang
dikeluarkan dalam penelitian.
·
Pasien dengan obesitas
sekunder
·
Pasien dengan Polycystic Ovarium Syndrome (PCOS).
·
Proteinuria yang
ditemukan pada awal penelitian atau sudah mengetahui adanya protenuria dari
pemeriksaan laboratorium sebelumnya.
·
Subjek yang pernah atau
sedang menderita gangguan hati.
·
Subjek yang pernah
didiagnosa menderita diabetes mellitus (DM), hipertensi, penyakit
kardiovaskular atau stroke.
·
Subjek sedang menjalani
terapi hormonal.
·
Subjek dengan kondisi
Dislipdemia yang ekstrem (berat).
·
Subjek sedang minum obat
hipoglikemik ,dislipidemia atau fitofarmaka.
·
Subjek dalam keadaan
hamil atau sedang menyusui
·
Subjek ditemukan
tanda-tanda/gejala inflamasi/infeksi kronis.
·
Subjek perokok.
Kerangka operasional

Definisi Operasional.
- Subjek penelitian :
pasien obesitas yang menjalani pemeriksaan kesehatan secara teratur
dipoliklinik Endokrin dan Metabolik RSUP.H.Adam Malik Medan selama periode
penelitian dan sudah memberikan izin tertulisnya untuk mengikuti penelitian
ini.
- Usia : Usia
berdasarkan yang tertera di kartu tanda penduduk (KTP) dengan satuan hasil
berupa tahun
- Jenis Kelamin :
berdasarkan yang tertera di kartu tanda penduduk (KTP) dengan hasil pria
atau wanita.
- Obesitas :
ditentukan menggunakan indeks massa tubuh (IMT) dan masuk kekategori obesitas
menurut klasifikasi Asia Pasifik (IMT ≥ 25 kg/m2) dan
menggunakan parameter Lingkar Pinggang (LP) dengan ukuran > 90 cm untuk
pria atau > 80 cm untuk wanita.
- Pola hidup medik
(PHM) : Latihan jasmani selama 30-60 menit, 3-5 kali dalam seminggu dengan
target nadi 60-75 % dari jumlah nadi maksimal disamping aktifitas
sehari-hari yang harus tetap dilakukan disertai dengan perubahan pola makan berdasarkan diet
standar selama 12 minggu.
- Pemberian
intervensi farmakologis dibagi dalam 2 kelompok. Kelompok I
menggunakan Metformin dengan dosis
: 3 x 500 mg selama 12 minggu, sedangkan kelompok kedua menggunakan
plasebo dengan bentuk dan ukuran yang sama dengan metformin yang digunakan.
- Tekanan darah :
tekanan darah rata-rata yang diambil dari hasil dua kali pemeriksaan yang
hasilnya dinyatakan dalam satuan mmHg.
- Berat badan (BB)
dengan satuan kg, Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan satuan kg/m2
dan lingkar pinggang (LP) dengan satuan centimeter (cm).
- Kadar gula darah
puasa dan 2 jam post prandial merupakan pemeriksaan sampel darah setelah
puasa 10-12 jam dan 2 jam setelah makan biasa dengan satuan
miligram/desiliter (mg/dl). Kadar kolesterol total, LDL, trigliserida dan
HDL pasien yang hasilnya dinyatakan dengan satuan miligram/desiliter
(mg/dl).
- Kadar Adiponektin
:merupakan hasil pemeriksaan sampel darah pasien yang menggambarkan kadar
adiponektin dalam plasma dengan satuan mikrogram/desiliter (µg/dl).
Adiponektin diperiksa menggunakan metode elisa dengan nilai normal
(3,58-9,66).
Analisa Data.
·
Untuk menampilkan
data-data epidemiologi subjek penelitian digunakan tabulasi untuk menunjukkan
gambaran deskriftif.
·
Untuk menilai
perbedaan/kesamaan parameter BB, LP, IMT, LDL, HDL,
Trigliserida, GDP, darah GD2JPP dan adiponektin di setiap kelompok PHMP
dan PHMM uji T- berpasangan pada hasil
yang terdistribusi normal atau Mann Whitney Test pada data yang tidak
terdistribusi normal.
·
Untuk menilai tigkat perbedaan/kesamaan
parameter BB, LP, IMT, LDL, HDL, Trigliserida, GDP,
GD2JPP dan adiponektin antar kelompok PHMP dan PHMP digunakan uji T-tidak
berpasangan pada hasil yang
terdistribusi normal
·
Data diolah dan
dianalisa dengan menggunakan program SPSS Version-15 dengan batas kemaknaan
p<0,05.
Ethical clearance diperoleh
dari Komite Penelitian Bidang Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara yang ditanda tangani oleh pada
tanggal 14 Mei 2010 dengan nomor surat 100/KOMET/FK USU/2010. Informed
concern diminta secara tertulis dari subjek penelitian yang bersedia
untuk ikut dalam penelitian setelah mendapatkan penjelasan mengenai maksud dan
tujuan penelitian ini..
Hasil
Dari parameter karakteristik dasar yang akan diuji pada penelitian ini semua 37 sampel penelitian terdistribusi
normal. Kesemua data karakteristik tersebut tertera pada tabel 1. Pada tabel
tersebut tergambar tidak ada perbedaan bermakna dari parameter antropometri
antara kedua kelompok yang mendapatkan metformin dan yang tidak mendapatkan
sebelum dilakukan intervensi pola hidup medik selama 12 minggu. Pada data
parameter adiponektin juga tidak terlihat perbedaan yang bermakna secara
statistik pada kedua kelompok sebelum dilakukan intervensi pola hidup medik
selama 12 minggu.
Tabel1. Data
karakteristik dasar kelompok PHMP vs PHMM pada minggu 0
Parameter
|
Satuan
|
Kelompok
PHM+P (n=18)
Mean ± SD
|
Kelompok
PHM+P (n=19)
Mean ± SD
|
P Value
|
Usia
Median
Berat Badan
Median
IMT
Lingkar Pinggang
Median
Tekanan Darah
Sistole
Diastole
Adiponektin
Ureum
Kreatinin
KGD Puasa
KGD 2 JPP
Kolesterol Total
Kolesterol LDL
Kolesterol HDL
Trigliserida
|
Tahun
Kg
Kg/m2
Cm
mmHg
µg/dl
mg/dl
mg/dl
mg/dl
mg/dl
mg/dl
mg/dl
mg/dl
mg/dl
|
33,50 ± 7,13
33,50
81,25 ±1 6,07
76,15
31,31± 3,09
97,39± 10,36
96,50
118,06± 4,89
78,89± 3,23
3,85±1,78
18,89 ± 4,73
0,77 ± 0,13
88,22 ± 9,32
102,50± 20,17
195,50± 44,84
126,78 ± 35,74
44,89 ± 11,66
149,94 ± 81,10
|
34,05 ± 10,15
32,00
80,12 ± 16,55
76,00
30,64± 4,22
99,21± 12,41
100
119,74 ± 3,89
77,63± 4,52
5,09±2,11
20,79 ± 5,13
0,79 ± 0,13
84,58 ± 9,61
107,21 ± 21,68
220,11± 43,66
152,26± 38,55
44,26± 9,10
152,68±104,09
|
0,850
0,835
0,588
0,632
0,254
0,336
0,064
0,251
0,660
0,250
0,499
0,100
0,045*
0,772
0,930
|
Pada kelompok yang hanya melakukan pola hidup medik dan mendapatkan plasebo
selama 12 minggu didapatkan penurunan berat badan sebesar 5,02 %, lingkar
pinggang sebesar 3,8 % dan indeks massa tubuh sebesar 6,5 % dan kesemuanya
bermakna secara uji statistik. Hanya perbaikan kadar glukosa puasa sebesar
-6,8% dan kadar trigliserida sebesar
-25,04% yang bermakna secara statistik. Peningkatam kadar adiponektin juga
ditemukan, namun tidak bermakna secara signifikan.(tabel 2)
Tabel 2. Perbandingan parameter
kelompok PHMP setelah minggu ke-12
Parameter
|
Satuan
|
Minggu 0
Mean ± SD
|
Minggu 12
Mean ± SD
|
P value
|
Berat Badan
IMT
Lingkar Pinggang
Tekanan Darah
Sistole
Diastole
Adiponektin
Ureum
Kreatinin
KGD Puasa
KGD 2 JPP
Kolesterol Total
Kolesterol LDL
Kolesterol HDL
Trigliserida
|
Kg
Kg/m2
Cm
mmHg
µg/dl
mg/dl
mg/dl
mg/dl
mg/dl
mg/dl
mg/dl
mg/dl
mg/dl
|
81,25 ±1
6,07
31,31±
3,09
97,39±
10,36
118,06±
4,89
78,89±
3,23
3,85±1,78
18,89 ±
4,73
0,77 ±
0,13
88,22 ±
9,32
102,50±
20,17
195,50±
44,84
126,78 ±
35,74
44,89 ±
11,66
149,94 ±
81,10
|
77,17±15,94
29,27±2,98
93,67±2,98
118,33±3,83
78,89±4,39
4,64±2,60
18,06±4,20
0,76±0,13
82,17±8,61
99,67±15,16
195,00±33,92
131,61±28,26
46,28±11,80
112,39±55,94
|
0,001**
0,001**
0,032*
0,842
1,000
0,076
0,239
0,534
0,039*
0,507
0,938
0,352
0,471
0,001**
|
ket: * =signifkan, **=sangat
signifikan
Pada kelompok metformin terdapat
penurunan berat badan, lingkar pinggang dan indeks massa tubuh sebesar 8,2 %,
10,2 % dan 8,3 % setelah melakukan intervensi pola hidup medik dan penambahan
metformin 3 x 500 mg selama 12 minggu dan hasil ini juga bermakna secara uji
statistik. Terdapat perbaikan tekanan darah sistolik dan diastolik serta
bermakna secara statistik. Terdapat perbaikan parameter GDP dan GD2JPP sebesar
-8,7 % dan -11,7%, kolesterol -15,09%, LDL sebesar -20,08% dan Trigliserida
sebesar -38,09% dan kesemuanya bermakna secara statistik. Peningkatan kadar
adiponektin juga dijumpai dan bermakna secara statistik. (tabel 3)
Tabel 3. Perbandingan parameter kelompok PHMM pada minggu ke-12
Parameter
|
Satuan
|
Minggu 0
Mean ± SD
|
Minggu 12
Mean ± SD
|
P value
|
Berat Badan
IMT
Lingkar Pinggang
Tekanan Darah
Sistole
Diastole
Adiponektin
Ureum
Kreatinin
KGD Puasa
KGD 2 JPP
Kolesterol Total
Kolesterol LDL
Kolesterol HDL
Trigliserida
|
Kg
Kg/m2
Cm
mmHg
µg/dl
mg/dl
mg/dl
mg/dl
mg/dl
mg/dl
mg/dl
mg/dl
mg/dl
|
80,12 ± 16,55
30,64± 4,22
99,21± 12,41
119,74 ± 3,89
77,63± 4,52
5,09±2,11
20,79 ± 5,13
0,79 ± 0,13
84,58 ± 9,61
107,21 ± 21,68
220,11± 43,66
152,26± 38,55
44,26± 9,10
152,68±104,09
|
73,54±15,25
28,09±3,92
89,05±12,06
112,89±4,50
72,63±4,52
6,43±2,55
19,74±4,02
0,78±0,13
77,21±9,49
94,58±16,53
186,89±35,91
126,79±35,32
46,05±8,16
93,00±40,75
|
0,001**
0,001**
0,001**
0,001**
0,001**
0,001**
0,251
0,806
0,023*
0,021*
0,001**
0,001**
0,205
0,002**
|
ket: * =signifkan, **=sangat
signifikan
Perubahan pola hidup medik selama 12
minggu jelas terlihat menimbulkan perbaikan pada ukuran antropometri. Namun
secara statistik penambahan metformin dalam pola hidup medik pada penelitian
ini ternyata tidak menimbulkan hasil yang berbeda bermakna dibandingkan tanpa
penambahan metformin. Pada akhir
penelitian secara statistik didapati peningkatan kadar adiponektin pada kedua
kelompok, namun terlihat bahwa peningkatan kadar adiponektin yang terjadi pada
kelompok yang mendapatkan metformin lebih bermakna secara statistik jika
dibandingkan dengan kelompok plasebo. (tabel 4)
Tabel 4. Perbandingan parameter antara kelompok PHMP vs PHMM setelah
minggu 12
Parameter
|
Satuan
|
PHM+P
Mean ± SD
|
PHM+M
Mean ± SD
|
P value
|
IMT
Lingkar Pinggang
Tekanan Darah
Sistole
Diastole
Adiponektin
KGD Puasa
KGD 2 JPP
Kolesterol LDL
Kolesterol HDL
Trigliserida
|
Kg/m2
Cm
mmHg
µg/dl
mg/dl
mg/dl
mg/dl
mg/dl
mg/dl
|
29,27±2,98
93,67±2,98
118,33±3,83
78,89±4,39
4,64±2,60
82,17±8,61
99,67±15,16
131,61±28,26
46,28±11,80
112,39±55,94
|
28,09±3,92
89,05±12,06
112,89±4,50
72,63±4,52
6,43±2,55
77,21±9,49
94,58±16,53
126,79±35,32
46,05±8,16
93,00±40,75
|
0,311
0,221
0,001**
0,001**
0,042*
0,106
0,337
0,650
0,946
0,235
|
` ket: *
=signifkan, **=sangat signifikan
Pembahasan
Obesitas sentral
merupakan tampilan terjadinya resistensi insulin (RI) yang ditandai dengan
peningkatan kadar glukosa darah (disglikemia), berupa peningkatan kadar glukosa
darah puasa terganggu (GDPT), toleransi gula darah terganggu (TGDT) maupun
diabetes mellitus (DM). Kadar asam lemak bebas (ALB) yang tinggi merupakan produksi jaringan lemak (adipose tissue) pada kondisi obesitas
yang diduga berperan terhadap terjadinya RI. Tingginya ALB didalam plasma akan
membuat ALB masuk kedalam otot dan menghambat asupan glukosa diotot . ALB juga
masuk kedalam sel hati dan memacu terjadinya proses glukoneogenesis dalam sel
hati. Kedua mekanisme yang terjadi pada obesitas inilah yang juga mendasari
terjadi RI pada obesitas sehingga menyebabkan terjadinya disglikemia dan
dislipidemia berupa peningkatan kadar kolesterol total, kolesterol LDL,
trigliserida dan penurunan kadar HDL.8,9
Survey epidemiologi
dan promosi kesehatan di masyarakat biasanya menggunakan ukuran IMT sebagai
indikator dalam menentukan obesitas secara menyeluruh. Disamping itu dilakukan
juga pengukuran lingkar pinggang (LP) untuk menilai akumulasi lemak abdominal
sekaligus juga sebagai indikator obesitas sentral.8
Metformin dikatakan
akan meningkatkan aktivasi AMPK di hati yang nantinya akan menghambat proses
glukoneogenesis sehingga pelepasan glukosa oleh hati akan berkurang.. Sedangkan
efek metformin di otot adalah meningkatkan aktivasi AMPK di otot dan
translokasi GLUT-4. Selain itu menurut beberapa penelitian penggunaan metformin
akan meningkatkan hepatic insulin extraction (HIE) yang diduga memperbaiki
pelepasan glukosa di hati pada populasi dengan kadar glukosa darah puasa normal
tanpa menimbulkan adanya hipoglikemia.10,11 Selain pengaruh metformin terhadap metabolisme
glukosa, modifikasi pola hidup ini sendiri mempunyai andil juga dalam
memperbaiki resistensi insulin sehingga ikut memperbaiki kadar glukosa darah.12
Beberapa penelitian serupa yang telah dilakukan sebelumnya untuk melihat
pengaruh pola hidup medik dengan metformin terhadap beberapa parameter
kardiometabolik dan antropometri mendapatkankan adanya hasil yang positif.13
Penelitian yang paling terkenal
adalah Diabetes Prevention Programs (DPP) study pada tahun 2002 yang mendapatkan adanya penurunan berat badan
5-7 % dan menurunkan resiko diabetes sebesar 58 % setelah melakukan pengaturan
makan dan aktivitas fisik yang sedang (moderate)
pasien prediabetes. Penelitian DPP juga mendapatkan hasil bahwa kelompok dengan
pola hidup medik selama 12 minggu mendapatkan hasil yang lebih baik
dibandingkan penggunaan metformin yang hanya mendapatkan penurunan berat badan
2,5 %.14 Penelitian lain adalah Indian
Diabetes Prevention Program
(IDPP) study pada tahun 2006 yang menilai efek pola hidup
medik dengan metformin terhadap populasi Asia India yang mempunyai resiko
diabetes. Penelitian ini pada akhirnya mendapatkan adanya perbaikan resiko
diabetes sebesar 26,4 % pada kelompok dengan pola hidup medik dan 28,2 % pada
kelompok yang menambahkan dengan metformin.15
Dua penelitian serupa
yang pernah dilakukan di Indonesia juga mendapatkan hasil yang hampir sama.
Penelitian pertama adalah penelitian yang dilakukan oleh Harun Alrasyid di
Medan pada tahun 2005 yang mendapatkan adanya perbaikan antropometri berat
badan sekitar 6 % setelah melakukan pola hidup medik selama 12 minggu pada
pasien obesitas.8 Penelitian kedua adalah penelitian Asman Manaf,dkk
di Padang pada tahun 2008 yang mendapatkan adanya perbaikan parameter
antropometri, kadar glukosa darah, profil lipid dan adiponektin setelah
melakukan pola hidup medik dan penambahan metformin selama 12 minggu.16
Beberapa hal yang
membedakan hasil penelitian ini dengan penelitian serupa yang dilakukan
sebelumnya adalah ; a). Populasi penelitian yang diikutkan pada penelitian ini
mayoritas tanpa toleransi glukosa terganggu (TGT ) dan tanpa kadar glukosa
darah puasa terganggu (KGDPT), b).usia populasi penelitian ini yang relatif
lebih muda sehingga memiliki metabolisme basal yang lebih besar, c).batasan IMT
yang digunakan pada penelitian ini adalah batasan obesitas Asia Pasifik (IMT ≥
25 kg/m2 ) dan lebih rendah batasannya dengan batasan DPP study yang
menggunakan batasan obesitas menurut WHO (IMT ≥ 30 kg/m2),
d).terprogramnya kegiatan olah raga yang dilakukan populasi penelitian ini
dengan seragam selama 12 minggu dan e). Masih terbatasnya sampel pada
penelitian ini dibandingkan penelitian sebelumnya.
Adanya perbaikan
antropometri pada kelompok yang melakukan pola hidup medik pada penelitian ini,
menurut Donelly dkk lebih besar peranannya oleh adanya aktifitas fisik sedang (moderate ) apabila dilakukan evaluasi
setelah 12 minggu. Kondisi ini didukung oleh penelitian mereka yang mendapatkan
hasil terdapat adanya pengaruh diet dan aktivitas sehari-hari terhadap
penurunan berat badan apabila telah dilakukan modifikasi selama 18 bulan.17
Pada penelitian ini
dijumpai perbaikan pada antropometri kelompok PHMP dan PHMM yang bermakna
secara statistik , namun terjadi penurunan yang lebih besar pada kelompok
PHMM.Hal ini dapat menjadi dukungan baru yang kuat terhadap penelitian yang
menilai penggunaan metformin pada pasien obesitas tanpa diabetes yang telah
dilakukan sebelumnya.
Peningkatan IMT berhubungan dengan peningkatan kolesterol total, LDL, TG,
hipertensi, dan penurunan HDL (Must et al,
1999) 18. Laporan dari National Cholesterol
Education Program (NCEP) Expert Panel on Detection, Evaluation, and Treatment
of High Blood Cholesterol in Adults menyatakan bahwa HDL yang rendah
(<35 mg/dl) merupakan faktor risiko mayor terhadap penyakit jantung koroner,
maka dianjurkan untuk melakukan aktivitas fisik (NCEP/ATP II), karena dari
beberapa studi cara terbaik untuk menaikan HDL adalah dengan latihan jasmani.19 Tetapi Latihan jasmani
sering disertai dengan penurunan BB maka sulit membedakan yang mana menyebabkan
peningkatan HDL tersebut. Selain
terhadap HDL banyak penelitian lain yang dilakukan yang menghubungkan efek
latihan jasmani terhadap faktor risiko penyakit jantung, kolesterol total dan
LDL. Penelitian terhadap olahragawan dibanding non olahragawan menunjukan peningkatan
HDL dan penurunan TG. Tetapi secara longitudinal hasilnya tidak jelas karena
ada yang mendapatkan perobahan yang sedikit atau tidak ada, kecuali penurunan
rasio LDL/HDL, kolesterol total/HDL, dan ini menyatakan risiko kardiovaskular
menjadi berkurang (Valca dan Venta, 2010). Latihan jasmani yang moderat terjadi
penurunan kolesterol total,
LDL, TG, CRP dan PAI-1. Pemberian metformin tidak mempengaruhi HDL
pasien sindoma metabolik. 20
Pada Penelitian ini pada kelompok PHMP hanya didapatkan penurunan kadar
trigliserida saja yang bermakna secara statistik, sedangkan pada kelompok PHMM
didapatkan penurunan kadar kolesterol total, triglserida dan LDL yang bermakna
secara statistik.
Banyak studi mengenai pengaruh obat
antidiabetes terhadap adiponektin terutama metformin dan thiazolidinediones
(TZDs), Kedua obat ini memiliki mekanisme yang berbeda namun berujung kepada
pelepasan insulin sensitizer yaitu adiposit. Metformin sebagai golongan
biguanid memiliki efek utama di hati, menghambat glukoneogenesis, mengurangi
hepatic glucose output, memperbaiki sensitivitas insulin di perifer, meningkatkan insulin-mediated glucose uptake
pada otot skeletal pasien diabetes tipe2 dan menstimulasi AMP-activated protein
kinase.21 Saat ini juga diketahui bahwa ada hubungan potensial
antara adiponektin dan metformin yaitu: toleransi glukosa dan aksi insulin.22
Dikatakan pada beberapa studi (Liang L dkk 2006) bahwa metformin memiliki
efek peningkatan level plasma adiponektin pada pasien obesitase dan
sensitivitas insulin, studi Adamia N dkk 2007 mendapati bahwa terapi metformin
meningkatkan level plasma adiponektin.23,24 Efek yang sama dari metformin dengan
adiponektin adalah terhadap aktivasi protein AMP kinase, dimana diketahui protein
ini memiliki efek peningkatan katabolisme, oksidasi asam lemak dan transport
glukosa.23 Namun pada
studi yang dilakukan oleh Susan A dkk (2003), membandingkan pengaruh 2 obat
anti diabetes (TZDs dan metformin) selama 3bulan didapatkan bahwa: terapi TZDs
meningkatkan 3 kali lipat kadar adiponektin sedangkan pada terapi metformin
tidak dijumpai perubahan.25 Pada akhir studi ini
didapatkan peningkatan kadar adiponektin dijumpai pada kedua kelompok baik yang
menggunakan metformin atau tanpa metformin, namun secara statistik hanya
kelompok yang menggunakan metformin peningkatannya bermakna.
Adapun hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa efek samping yang dialami kelompok metformin relatif kecil
dan sama dengan kelompok yang menggunakan placebo. Pada kelompok yang
menggunakan metformin efek samping dijumpai sebanyak 27,27 % yang sebagian
besar berupa efek samping saluran cerna berupa mual-mual yang sifatnya ringan.
Hanya ada 2 sampel (9,09 %) yang mendapat keluhan mual dan muntah yang hebat
serta 1 sampel (4,5 %) yang mempunyai keluhan konstipasi berat sehingga keluar
dari penelitian walaupun dengan dosis metformin terkecil 500 mg/hari. Sedangkan
pada kelompok yang menggunakan placebo, angka kejadian efek samping dijumpai
22,72 % dan sebagian besar berupa mual-mual yang sifatnya ringan. Hanya ada 2
sampel pada kelompok placebo ini yang mendapatkan keluhan muntah-muntah hebat
dan akhirnya keluar dari penelitian. Adanya perbedaan jumlah kejadian efek
samping pada penelitian ini dibandingkan dengan DPP study disebabkan oleh : dosis metformin yang digunakan pada
penelitian ini lebih kecil dan terbagi sebesar 3 x 500 mg, berbeda dengan DPP study yang menggunakan dosis 2 x 850
mg. Perbedaan lain adalah terbatasnya jumlah sampel yang diikutsertakan pada
penelitian
Daftar pustaka
- Hossain P, Kawar B. Obesity and Diabetes in developing world:
a growing challenge. In: N Engl J Med; 2007; 356:213-15
- Ogden CL, Carroll MD, Curtin LR, et.al. Prevalence of
overweight and obesity in the United Stated, 1999-2004. JAMA; 2006; 295:
1549-1555.
- Sugondo S. Obesitas. Dalam : Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam.
Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, dkk (Eds). Jakarta. Pusat Penerbitan Ilmu
Penyakit Dalam FKUI; 2007; 4;3:1919-25.
- Bray. Medical Consequence of Obesity. In: J Clin Endocrinol
Metab; 2004;89(6):2583-9.
- Gatot S Lawrence, Peran Adiponektin Pada
Gangguan Vaskuler Sindrom Metabolik. In: J Med Nus. 2006;26 : 112-117.
- Susan A. Phillips, Theodore P. Ciaraldi, Alice P.S. Kong.
Modulation of Circulatingn and Adipose Tissue Adiponectin Levels by
Antidiabetic Therapy. Diabetes;2003;52,667-674
- Desilet RA, Karki SD, Dunican KC. Role of
Metformin for weight management in Patients without type 2 diabetes
mellitus. In: The Annual of Pharmacotherapy; 2008; 42:817-27.
- Alrasyid H. Pengaruh Modifikasi Diet
Rendah Kalori Terhadap Berat Badan dan Lingkar Pinggang Wanita Obesitas
Dewasa. Dalam :
Majalah Kedokteran Nusantara.The Journal of Medical School University of
Sumatera Utara. Medan; 2007; 40;4:267-73.
- Lengkap Forum Diabetes Nasional 4. Padang : PB PERKENI &
PERKENI cab.Padang ; 2007: 1-11.
- Campbell IW, Ritz P. Understanding the Glocuse-Lowering
Actions of Metformin. In: Metformin The Gold Standart .A Scientific
Handbook. Bailey Cj, et.al (eds). Wiley Ltd USA; 2007.77-88.
- Schuster D, Gaillard T, Rhinesmith S at al. Impact of
Metformin on Glucose Metabolism in Non Diabetic , Obese African Americans.
Diabetes Care 2004 ; 27 : 2768-69.
- Tina L, Dumbar JA, Chapman A, et.al.Prevention of Type 2
Diabetes by Lifestyle Intervention in an Australian Primary Health Care
Setting: Greater Green Triagle. In : BMC Public Health 2007, 7:249.
- Manaf A. Aggressive Treatment on Type 2 Diabetes Mellitus
Earlier with Combination Therapy . Dalam : Naskah lengkap Pertemuan Ilmiah
Berkala IX Ilmu Penyakit Dalam . Padang : Bagian IPD FK Unand ; 2008 :
7-18.
- Diabetes Prevention Programs Research Group. Reduction
Incidence of Type 2 Diabetes with Lifestyle Intervention or Metformin.NEJM
; 2002; 346;6:393-403
- Ramachandran A, Shenelata C, Mary S, et.al. The Indian Diabetes Prevention Programme Shows that
Lifestyle Modification and Metformin Prevent Type 2 Diabetes in Asian
Indian Subjects with Impaired Glucose Tolerance (IDPP-1). Diabetologia
(2006) 49: 289–97
- Manaf.A. Effect of Metformin Therapy on Plasma Adiponectin in
Obesity with Prediabetes Patient; Laporan Penelitian; 2008.
- Donelly JE , Jacobsen DJ, Heelen KS et
al. The
effect of 18 months Intermitten vs Continue Exercise on Aerobic Capacity,
Body Weight and Composition. Int Obes 2000 ; 24 : 566-72.
18. Must A, Spadano J, Coakley EH, Field AE, Colditz G , Dietz WH (1999). The disease burden associated with overweight and obesitasity. JAMA 282, 1523–1529
19. NCEP ATP II
(1993). National Cholesterol Education Program (NCEP) ExpertPanel on Detection,
Evaluation, and Treatment of High BloodCholesterol in Adults (Adult Treatment
Panel II). Summary of the second report of the National Cholesterol Education
Program (NCEP) Expert Panel on Detection, Evaluation, and Treatment of High
Blood Cholesterol in Adults (Adult Treatment Panel II). J Am Med Assoc 269, 3015
20.
Valca´rcel G, Venta R (2010). New cardiovascular risk factors and
physicalactivity Nicola´sTerradosa. Apunts
MedEsport 45(167), 201–208
- Peter Huypens, Erik Quartier, Daniel Pipeleers. Metformin
reduces adiponectin protein expression and release in 3T3-L1 adipocytes
involving activation of AMP activated protein kinase. European Journal of
Pharmacology Volume 518, Issues 2-3, 22 August 2005, 90-95.
- C. Antoniades, A.S. Antonopoulos, D. Tousoulis. Adiponectin:
from obesity to cardiovascular disease. Journal compilation obesity
reviews ;2009;10,269-279
- Zhang JL, Zheng X, Zou DJ, et.al. Effect
of Metformin on Weight Gain During Antihypertensive Treatment with a Beta
Blocker in Chinese patients. Hypertension; 2009:23:4:236-42
- Adamia N, Virsaladze D, Charkviani N. Effect of metformin
therapy on plasma adiponectin and leptin levels in obese and insulin
resistant postmenopausal emales with type 2 diabetes. Georgian Med
News.2007 Apr;(145):52-5
- Susan A. Phillips, Theodore P. Ciaraldi, Alice P.S. Kong.
Modulation of Circulatingn and Adipose Tissue Adiponectin Levels by
Antidiabetic Therapy. Diabetes;2003;52,667-674.


20.46
Unknown
Posted in:
0 komentar:
Posting Komentar