Diberdayakan oleh Blogger.

Jumat, 15 Juni 2012

Hubungan Kendali Kadar Gula Darah Dengan Asymmetrical Dimethylarginine (ADMA) pada Pasien DM Tipe 2

Judul :
Hubungan kendali kadar gula darah dengan asymmetrical dimethylarginine (ADMA) pada pasien dm tipe2.

Tanggal Terbit :
22 Juni 2010

Penulis :
Ameliana S. Purba

Pembimbing :
Dharma Lindarto

Divisi :
Endokrinologi Metabolik

Latar Belakang :
Meningkatkan angka harapan hidup akan meningkatkan prevalensi penyakit metabolik, terutama diabetes mellitus (DM) sedangkan penyakit kardiovaskuler merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada pasien DM. Disfungsi endotelial akan membawa terjadinya pembentukan plak, progresi dan ruptur. Mekanisme gangguan endotelial diperantarai sebuah meolekul inhibitor endogen nitrit oksida sitnese (NOS) yang dikenal dengan asimetrikal dimetilarginin (ADMA). Faktor resiko gangguan fungsi vasodilator endotelial disebabkan karena akumulasi ADMA. Dengan blokade generasi NO, ADMA dapat memulai proses-proses dalam atherogenesis, progresis plak dan ruptur plak. Sejauh ini data mengenai ADMA pada pasien DM Tipe 2 belum banyaki dipublikasikan di Indonesia, sehingga menarik untuk diteliti.   

Tujuan : 
Untuk mengetahui hubungan antara kadar gula darah dan HbA1c dengan nilai ADMA pada pasien DM Tipe 2.

Metode : 
Penelitian dilakukan mulai bulan Januari 2009 sampai dengan Juni 2009 dengan metode potong lintang. Jumlah peserta yang diperiksa adalah 44 orang yang dipilih acak dari pasien DM tipe 2 yang berobat rawat jalan di Poliklinik Penyakit Endokrin dan Metabolik RS.HAM. Dilakukan anamnesa, pemeriksaan fisik, pemeriksaan kadar gula darah, HbA1c dan ADMA. Dikatakan kadar gula terkendali jika HbA1c < 7%.

Hasil : 
Dari 44 sampel, didipatkan rerata umur (58,70 + 9,059) tahun, rerata kadar gula darah sewaktu (194,89 + 79,310) mg/dl, rerata HbA1c (8,395 +  2,5134) % dan rerata ADMA (0,9161  +  0,399) umol/L. Terdapat 20 (45,45%) sampel dengan kadar gula darah terkendali. Nilai rerata ADMA pada kelompok kadar gula darah tidak terkendali lebih tinggi dibanding kelompok dengan kadar gula darah terkendali (1,03 + 0,057 vs 0,779 + 0,1166) umol/L. Didapatkan hubungan yang tidak bermakna antara KGD sewaktu dengan ADMA (p = 0,471), sedangkan hubungan antara HbA1c dengan ADMA mendekati bermakna (p = 0,052).

Kesimpulan :
Penelitian ini menemukan bahwa nilai rerata ADMA pada pasien DM tipe 2 yang tidak terkendali lebih tinggi dari pasien yang kadar gula darahnya terkendali.

Kata Kunci :
asymmetrical dimethylarginine,DM tipe 2, disfungsi endotel, HbA1c.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Free Wordpress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Templates